Mengerti.id - Cirebon dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa Barat. Kota ini menyimpan banyak peninggalan sejarah yang sarat makna religi.
Wisata religi di Cirebon bukan hanya tempat berziarah, tetapi juga ruang belajar tentang budaya. Banyak destinasi menyajikan arsitektur unik dan kisah para tokoh penting.
Mengunjungi tempat-tempat ini sangat cocok dilakukan bersama keluarga besar. Anak-anak bisa diajak mengenal sejarah Islam dan kearifan lokal secara langsung.
Dalam artikel ini, ada lima destinasi religi bersejarah yang bisa menjadi tujuan. Mulai dari keraton hingga makam, semua memberikan pengalaman spiritual dan edukatif.
Baca Juga: Seru dan Hemat! 7 Tempat Wisata Keluarga Terbaik di Cirebon 2025
1. Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan merupakan ikon wisata sejarah dan religi di Cirebon. Bangunan ini berdiri sejak tahun 1529 oleh Pangeran Mas Zainul Arifin, cicit Sunan Gunung Jati.
Keraton ini memiliki dua kompleks utama, yaitu Dalem Agung Pakungwati dan Keraton Pakungwati. Suasana di sekelilingnya terasa sakral dengan tembok bata merah dan gerbang khas.
Pengunjung dapat menemukan museum berisi pusaka bersejarah, termasuk kereta kencana Singa Barong. Ada juga sanggar tari serta tempat pementasan budaya yang sering digunakan.
Keraton Kasepuhan kerap menjadi pusat acara budaya dan keagamaan. Grebeg Syawal dan Festival Topeng Nusantara rutin digelar di kompleks ini.
2. Makam Sunan Gunung Jati
Makam Sunan Gunung Jati berlokasi di Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati. Tempat ini merupakan salah satu pusat ziarah Islam terbesar di Cirebon.
Kompleks makam dikelilingi sembilan pintu utama yang disebut Lawang Sanga. Peziarah biasanya hanya diperbolehkan masuk melalui pintu keempat.
Arsitektur makam memadukan gaya Jawa, Arab, dan Tionghoa. Hal ini menggambarkan latar belakang Sunan Gunung Jati dan istrinya, Ong Tien Nio.
Selain itu, terdapat area khusus bagi peziarah Tionghoa yang dikenal sebagai Lawang Mergu. Ornamen keramik Tiongkok tampak menghiasi sudut-sudutnya.
Kompleks makam dikelola oleh lebih dari seratus juru kunci. Mereka memastikan tradisi dan tata tertib ziarah tetap terjaga.